Jakarta.swaradesaku.com. Indonesia hari ini sedang dipertontonkan pada panggung realitas yang menguji akal sehat dan nurani.
Praktik korupsi antar-lembaga negara, lemahnya pengawasan anggaran, ketidakadilan oknum penegak hukum, eksploitasi hutan oleh kelompok serakah, hingga beban pajak yang mencekik rakyat kecil menjadi berita sehari-hari.
Di tengah krisis kepercayaan yang melanda masif, gerakan literasi berbasis spiritual hadir membawa pesan kuat: situasi ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah momentum kebangkitan.
Cobaan atau Takdir?
Perspektif Al-Qur’an dan Hadis
Banyak pihak bertanya, apakah keterpurukan sistemik ini merupakan takdir yang harus diterima dengan pasrah, ataukah sebuah cobaan?
Dalam perspektif Islam, kerusakan yang terjadi di suatu negeri secara tegas dinyatakan sebagai akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri, bukan takdir buta dari Tuhan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Secara gamblang, ayat ini menjelaskan bahwa korupsi, keserakahah mafia hutan, dan penindasan hukum adalah sebab-akibat (kausalitas) dari hilangnya amanah.
Rasulullah SAW juga telah mengingatkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Al-Bukhari mengenai kehancuran suatu bangsa akibat salah menempatkan urusan:
“Jika amanat telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran.” Sahabat bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Beliau menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhari).
Oleh karena itu, situasi saat ini adalah cobaan sekaligus peringatan keras agar bangsa ini segera melakukan koreksi total, bukan meratapinya sebagai nasib yang tak bisa diubah.
Ketika Sebab Datang:
“Tuhan Sedang Turun Tangan”
Ada sebuah filosofi mendalam ketika seluruh kebobrokan ini dibuka secara telanjang di depan mata rakyat. Ketika “sebab” (alat bukti, kesadaran massa, dan terbongkarnya skandal) mulai bermunculan, itu adalah tanda bahwa Tuhan sedang bekerja membersihkan negeri ini.
Melalui hukum sebab-akibat yang diciptakan-Nya, Allah SWT sedang mematangkan kesadaran kolektif bangsa. Penindasan yang memuncak adalah cara alamiah runtuhnya sebuah kezaliman.
Sejarah mencatat, tidak ada rezim zalim yang abadi. Ketika rakyat diperas dan ditindas, di situlah doa-doa orang teraniaya diijabah tanpa sekat.
“Berbahagialah” Rakyat Indonesia: Ironi yang Menguatkan jiwa
Pernyataan “berbahagialah menjadi warga negara yang tertindas” bukanlah bentuk kepasrahan masokis, melainkan sebuah ironi motivatif.
Rakyat Indonesia boleh kehilangan kepercayaan pada sistem pemerintahan saat ini, tetapi tidak boleh kehilangan harapan pada masa depan.
Mengapa harus “berbahagia”? Karena di tengah himpitan pajak dan penegakan hukum yang timpang, mentalitas rakyat Indonesia sedang ditempa menjadi mentalitas baja.
Literasi sejati mengajarkan bahwa bangsa yang besar lahir dari penderitaan yang berhasil dilewati, bukan dari kenyamanan yang melenakan.
Kita diajak untuk mengubah kemarahan menjadi energi literasi: membaca keadaan secara kritis, menuliskan kebenaran, dan mencerdaskan generasi muda agar tidak mengulangi dosa-dosa pembuat kebijakan hari ini.
Seruan Aksi:
Melawan dengan Literasi dan Kesadaran
Rilis ini menjadi panggilan terbuka bagi seluruh elemen masyarakat, akademisi, pemuda, dan pegiat literasi di seluruh penjuru Indonesia.
Jangan biarkan ketidakpercayaan membuat kita apatis. Bersatulah untuk terus mengawasi, mendidik, dan menyuarakan kebenaran. Bersihkan hati, tajamkan pikiran, dan bersiaplah menyambut fajar keadilan yang pasti akan datang setelah malam yang pekat.
#LiterasiBergerak #IndonesiaMemilihSadar #LawanKorupsi #KeadilanSosial
#presidenrepubkikindonesia
#BPIKPNPARI
