Cirebon.swaradesaku.com. Kisah Maesaro, seorang perempuan warga Desa Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, yang tengah berjuang mendapatkan pengobatan di tengah keterbatasan ekonomi, mengetuk hati berbagai pihak.
Maesaro saat ini mengalami kesulitan bernapas akibat adanya daging tumbuh yang menutup lubang hidung. Kondisi tersebut membuatnya membutuhkan penanganan medis dan tindakan operasi sebagaimana dianjurkan dokter spesialis THT, Kamis ( 13/8/26 ).
Sebelumnya, Maesaro telah menjalani pemeriksaan dan perawatan di RS Gunung Jati Cirebon. Namun, menurut keterangan anaknya, dokter spesialis THT menganjurkan agar sang ibu segera menjalani operasi.
Persoalan biaya kemudian menjadi kendala serius. Maesaro diketahui belum memiliki BPJS Kesehatan sehingga pelayanan medis harus ditempuh sebagai pasien umum.
“Anjuran dari dokter spesialis THT, ibu saya harus segera operasi. Tapi karena ibu saya tidak punya BPJS, akhirnya disuruh pulang, padahal belum ada tindakan,” ujar anak Maesaro.
Kondisi ekonomi keluarga semakin memperberat keadaan. Maesaro hanya bekerja sebagai pengupas rajungan dengan penghasilan sekitar Rp15 ribu hingga Rp30 ribu per hari, itu pun bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan.
Dengan penghasilan tersebut, biaya pengobatan dan tindakan operasi sebagai pasien umum tentu menjadi beban berat bagi keluarga.
Pihak keluarga mengaku telah berupaya mencari jalan keluar, termasuk mengurus akses kepesertaan maupun jaminan kesehatan. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena masih terkendala kondisi UHC dan prosedur administrasi yang harus ditempuh.
Keluarga menegaskan tidak bermaksud menyalahkan Pemerintah Desa, Kecamatan maupun Dinas terkait. Mereka hanya berharap ada pendampingan dan solusi agar Maesaro yang tergolong masyarakat kurang mampu tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.
“Kami memahami mungkin ada prosedur yang harus dijalankan. Kami juga tidak menyalahkan pihak Desa, Kecamatan maupun Dinas terkait. Kami hanya berharap ibu kami mendapatkan perhatian dan ada jalan keluar karena kondisi ibu memang membutuhkan operasi,” ungkapnya.
Saat ini, keluarga masih berupaya mencari solusi agar Maesaro dapat kembali memperoleh penanganan medis tanpa terbentur persoalan biaya.
Kondisi yang dialami Maesaro menjadi gambaran bahwa akses layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu masih membutuhkan perhatian dan pendampingan, terutama bagi mereka yang menghadapi kondisi kesehatan serius tetapi terkendala kemampuan ekonomi.
Keluarga berharap persoalan tersebut dapat mengetuk hati para pemimpin dan pihak terkait, mulai dari Pemerintah Kabupaten Cirebon, Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga pemangku kepentingan lainnya.
Mereka berharap ada solusi kemanusiaan sehingga seorang ibu yang membutuhkan tindakan operasi tidak harus dihadapkan pada pilihan sulit antara mendapatkan pengobatan atau memikirkan biaya yang tidak mampu ditanggung keluarga.
“Kami hanya ingin ibu kami bisa berobat dan mendapatkan operasi sesuai anjuran dokter. Kami berharap ada perhatian dari para pemimpin dan pihak yang bisa membantu,” tutur anak Maesaro.
Kini, harapan keluarga Maesaro sederhana : ada pintu solusi agar sang ibu dapat kembali mendapatkan perawatan dan menjalani operasi yang dibutuhkan tanpa terbebani biaya yang tidak sanggup mereka tanggung.
( Falah )
