• Sab. Jul 11th, 2026

Cirebon.swaradesaku.com. Musibah kebakaran menimpa rumah milik Kusnandar dan istrinya, Sri Mulyani, yang berlokasi di Dusun II RT 03 RW 04, Gang Dahlia, Desa Curug Wetan, Kecamatan Susukan lebak, Kabupaten Cirebon. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu dini hari, 4 Juli 2026, sekitar pukul 01.00 WIB.
Berdasarkan keterangan korban, kobaran api pertama kali diketahui oleh sekelompok anak muda yang saat itu sedang berkumpul di depan rumah korban.

Sementara itu, seluruh penghuni rumah sedang tertidur lelap sehingga tidak menyadari adanya kebakaran.
Diduga, api berasal dari korsleting arus listrik yang kemudian dengan cepat merambat dan membakar bagian atap rumah. Mengetahui kejadian tersebut, warga segera membangunkan penghuni rumah agar dapat menyelamatkan diri.

Saat peristiwa berlangsung terdapat empat orang yang berada di dalam rumah, yakni Kusnandar, istrinya Sri Mulyani, serta dua orang anak mereka. Beruntung, seluruh anggota keluarga berhasil keluar dari rumah dengan selamat sehingga tidak ada korban jiwa maupun korban luka.

“Alhamdulillah, yang paling utama seluruh keluarga kami selamat. Saat kejadian kami benar-benar sedang tertidur dan tidak mengetahui api sudah membesar. Kami sangat bersyukur masih diberikan keselamatan,” ujar Kusnandar, Sabtu ( 11/7/26 ).

Ia menjelaskan, kobaran api melalap hampir seluruh bagian atap rumah, mulai dari bagian depan hingga belakang. Warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut langsung bergotong royong memadamkan api menggunakan air seadanya sambil menghubungi petugas Pemadam Kebakaran (Damkar).

Petugas Damkar diperkirakan tiba di lokasi sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah berjibaku melakukan pemadaman selama kurang lebih satu jam, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 03.00 WIB sehingga tidak merambat ke rumah-rumah warga lainnya.

Akibat peristiwa tersebut, kerugian material ditaksir mencapai sekitar Rp 50 juta.
Namun di balik rasa syukur karena keluarganya selamat, Kusnandar mengaku sangat kecewa terhadap sikap Pemerintah Desa Curug Wetan yang menurutnya tidak menunjukkan kepedulian pascakebakaran.

“Saya sangat menyayangkan sampai saat ini tidak ada satu pun perangkat Pemerintah Desa Curug Wetan yang datang sekadar menanyakan kondisi keluarga kami atau melihat langsung keadaan rumah yang terbakar. Padahal musibah seperti ini seharusnya menjadi perhatian bersama,” ungkapnya.

Ironisnya, lanjut Kusnandar, dirinya merupakan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Curug Wetan. Menurutnya, jika dirinya yang merupakan bagian dari unsur pemerintahan desa saja tidak mendapatkan perhatian, maka ia khawatir masyarakat biasa akan mengalami hal yang sama.

“Saya ini anggota BPD Desa Curug Wetan. Kalau saya saja tidak mendapat perhatian sedikit pun dari pemerintah desa, bagaimana dengan masyarakat biasa? Saya berharap ke depan pemerintah desa lebih sigap, lebih peduli, dan segera hadir ketika ada warganya yang tertimpa musibah. Kehadiran pemerintah bukan hanya soal bantuan materi, tetapi juga bentuk empati dan tanggung jawab kepada masyarakat,” tegasnya.

Kusnandar berharap Pemerintah Desa Curug Wetan dapat melakukan evaluasi terhadap pelayanan dan respons terhadap warga yang mengalami musibah, sehingga ke depan tidak ada lagi masyarakat yang merasa diabaikan ketika membutuhkan perhatian dan kehadiran pemerintah desa.

( Falah )