• Sab. Jun 20th, 2026

Jakarta.swaradesaku.com. Kekuasaan adalah amanah berat, bukan alat pemuas nafsu keserakahan. Ketika penguasa menggunakan kekuasaannya untuk menindas, merampas hak, dan menyengsarakan rakyat, maka runtuhlah legitimasi moral kepemimpinannya. Menghadapi situasi ini, bungkam bukanlah pilihan. Agama Islam secara tegas memosisikan kritik terhadap penguasa yang dzalim sebagai bentuk ibadah dan jihad tertinggi.(20/6/26).

Landasan Al-Qur’an: Kutukan dan Ancaman bagi Pemimpin Dzalim
Al-Qur’an secara eksplisit mengecam segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan. Allah SWT berfirman:

“Sesudah itu, Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi setelah mereka, supaya Kami melihat bagaimana kamu berbuat.” (QS. Yunus: 14)

Ayat ini mengingatkan bahwa kekuasaan hanyalah giliran dan ujian. Jika ujian itu gagal dan berubah menjadi kedzaliman, Allah SWT memberikan peringatan keras dalam ayat lain:

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)

Landasan Hadits:
Kritik adalah Jihad Tertinggi
Islam tidak mengajarkan kepatuhan buta kepada pemimpin yang merusak tatanan keadilan. Rasulullah SAW memberikan legitimasi penuh bagi gerakan kritis kemasyarakatan melalui sabdanya:

* Jihad Terbaik:
“Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang adil di hadapan penguasa yang dzalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

* Kewajiban Mencegah Kemungkaran:

“Jika manusia melihat orang dzalim namun tidak mencegah tindakannya, dikhawatirkan Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

* Pemimpin yang Dibenci:

“Sejelek-jeleknya pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim).

Suara Tokoh Ulama: Konsistensi Menjaga Jarak dari Penguasa
Sepanjang sejarah, para ulama pewaris nabi selalu berada di garis depan dalam mengontrol jalannya kekuasaan:

* Imam Abu Hanifah: Beliau memilih dicambuk dan dipenjara hingga wafat daripada menerima jabatan hakim dari penguasa yang korup, demi menjaga independensi hukum Islam.

* Imam Ahmad bin Hanbal: Beliau mengalami Mihnah (penyiksaan) di penjara demi mempertahankan akidah dan menolak tunduk pada doktrin penguasa yang menyimpang.

* Imam Al-Ghazali: Dalam kitab Ihya Ulumuddin, beliau menegaskan bahwa kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama yang menjilat demi harta dan jabatan.

* Buya Hamka: Ulama besar Nusantara yang memilih mendekam di penjara era Orde Lama daripada menggadaikan fatwa dan kebenaran demi menyenangkan penguasa.

Pernyataan Sikap dan Seruan
Melihat realitas hari ini, di mana kebijakan sering kali lebih berpihak pada segelintir elite daripada hajat hidup orang banyak, kami menyerukan:

1. Kepada Penguasa: Bertaubatlah sebelum terlambat.

Doa rakyat yang terdzalimi tidak memiliki penghalang langsung ke langit Allah SWT.

2. Kepada Para Ulama dan Tokoh Agama:

Kembalilah ke fungsi asasi sebagai pilar moral bangsa. Suarakan kebenaran, jangan menjadi stempel pembenaran atas kebijakan yang menindas rakyat.

3. Kepada Masyarakat: Jaga persatuan.

Teruslah kritis dengan cara yang konstitusional dan bermartabat. Menolak kedzaliman adalah bagian dari menjaga keimanan.

Keadilan tidak akan pernah runtuh selama masih ada lisan yang berani menyuarakan kebenaran.

Di rangkum dari berbagai sumber:
Rizwan riswanto