Kesling Puskesmas Ciseeng Di Ds Putat Nutug Kec Ciseeng

    Bogor. swaradesaku.com. Kesehatan merupakan harta yang paling berharga dalam kehidupan manusia di muka bumi ini, namun masih banyak masyarakat yang kurang peduli bahkan sama sekali tidak mempedulikannya, terutama masyarakat yang berada di pedesaan.

    Karena kurang peduli dan mungkin pula disebabkan minimnya penyuluhan serta informasi tentang betapa pentingnya kesehatan, maka pada hari Jumat Pukul. 09.00 30 Agustus 2019 digelar Kesling (kesehatan lingkungan) oleh Puskesmas Ciseeng di aula Kantor Desa Putat Nutug Kec. Ciseeng.

    Pada pelaksanaan Kesling tersebut telah hadir perwakilan dari Puskesmas Ciseeng yaitu: Dewi Suryatin, Maya Kartika Dewi, Siti Fatimah dan Lilis Puji Hastuti. Kesling yang kali ini dilaksanakan bertemakan jamban bersih: Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

    Keempat narasumber yang cantik-cantik tersebut dengan penuh semangat menjelaskan mengenai perlunya pemahaman mengenai jamban yang baik di hadapan para bunda paud, bunda posyandu se Desa Putat Nutug, dan dihadiri pula oleh Ketua Himpaudi Kec. Ciseeng Neneng S.Ap, Bunda Umsah, Bunda Linah Marlinah, Bunda Siti Nureliyah, Bunda Mimin, Bunda Hartati, Bunda Mbay.

    Maya Kartika Dewi hadir dengan penuh semangat dan selalu senyum menjelaskan serta mengingatkan kembali kepada seluruh undangan mengenai penyakit TBC (Tuberculosis). Indonesia menjadi negara kedua di dunia pada penderita penyakit yang disebabkan oleh kuman mikro. Penyakit paru-paru memiliki tanda atau gejala seperti batuk mengeluarkan darah, nyeri di dada serta penurunan semangat.

    Dewi Suryatin pada kesempatan tersebut bersama narasumber lainnya menjelaskan kepada seluruh para kader, bunda paud dan posyandu mengenai prinsip utama tempat pembuangan tinja/jamban sehat, yaitu: Tidak mencemari sumber air/badan air atau jarak tempat penampungan tinja terhadap sumber air di atas 10 meter. Tidak mencemari lingkungan. Tidak ada kontak dengan Viktor (lalat), konstruksi yang aman.

    Ketika ditemui awak media seusai penyuluhan kesling, Dewi Suryatin menjelaskan: “Mengingat tinja merupakan bentuk kotoran yang sangat merugikan dan membahayakan kesehatan masyarakat, oleh sebab itu tinja harus dikelola, dibuang dengan baik dan benar. Untuk itu tinja harus dibuang pada wadah atau sebut saja jamban. Dan jamban yang digunakan masyarakat bisa dalam bentuk jamban yang paling sederhana serta murah. Misalnya jamban cemplung atau jamban yang lebih baik seperti jamban leher angsa dari tanah liat atau keramik,” pungkasnya.(Agustion)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *