BMKG Angkat Bicara Terkait Potensi Gempa Yang Disertai Tsunami Di Selatan Jawa

Jakarta. swaradesaku.com. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan himbauan untuk masyarakat Cilacap dan Yogyakarta khususnya yang berdekatan dengan pantai agar selalu waspada akan terjadinya gempa dengan magnitudo 8,8 SR yang disusul dengan stunami setinggi 20 meter.

Demikian, BMKG merilis siaran pers yang menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada teknologi manapun yang bisa memprediksi akan terjadinya gempa tersebut dimana, kapan, dan berapa kekuatannya.

Berdasarkan kajian para ahli bahwa zona megathrust Selatan Jawa memiliki potensi gempa dengan magnitudo M 8,8 akan tetapi ini adalah potensi bukan prediksi, sehingga kapan terjadinya belum dapat diketahui. Untuk itu masyarakat dihimbau melakukan upaya mitigasi struktural dan non struktural dengan membangun bangunan aman gempa, melakukan penataan tata ruang pantai yang aman tsunami, serta membangun kapasitas masyarakat terkait cara selamat saat terjadi gempa bumi dan tsunami.

Dikutip dari instagram Bapak @daryonobmkg selaku Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG. Ia menuliskan bahwa “Selama 3 hari ini saya diminta banyak pihak untuk membuat klarifikasi terkait gempa di Selatan Jawa,” Kata Daryono.

“Jawaban saya adalah, bahwa kita harus jujur mengakui dan menerima kenyataan bahwa wilayah kita memang rawan gempa dan tsunami,” Lanjutnya.

Daryono menuliskan, khususnya wilayah  Selatan  Jawa keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat sehingga wajar saja jika wilayah Selatan Jawa merupakan kawasan rawan terjadi gempa dan tsunami.

Ia juga menuliskan, Wilayah Samudra Hindia Selatan Jawa sudah sering kali terjadi gempa besar dengan kekuatan di atas M=7,0. Sejarah mencatat daftar gempa besar seperti gempa Samudra Hindia tahun 1863, 1867, 1871, 1896, 1903, 1923, 1937, 1945, 1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994 dan 2006. Sementara itu tsunami Selatan Jawa juga pernah terjadi pada tahun 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006.

“Ini bukti bahwa informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar bukanlah berita bohong,” jelasnya.

Semua informasi potensi Gempa dan Tsunami harus direspon dengan langkah nyata dengan cara memperkuat mitigasi, dengan mewujudkan semua langkah mitigasi maka bisa meminimalkan dampak tersebut.

Diakhir postingannya ia juga menambahkan, Peristiwa gempa bumi dan tsunami adalah keniscayaan di wilayah indonesia, yang penting dan harus dibangun adalah mitigasinya, kesiapsiagaannya, kapasitas stakeholder dan masyarakatnya.(Syd/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *