Bogor.swaradesaku.com. Setiap bulan Agustus tiba, gegap gempita perlombaan selalu berhasil membius kita. Sorak-sorai riuh rendah menyaksikan rakyat yang berpeluh keringat, tertawa lepas dalam balutan tradisi tahunan.
Kita dihibur oleh filosofi perjuangan yang dikerdilkan menjadi sekadar hiburan: tarik tambang yang menguras urat, tarik suara yang mendendangkan lagu-lagu patriotik, hingga melompat susah payah dalam kekangan balap karung. Hiburan murah ini seolah menjadi candu, membuat kita lupa sejenak pada realitas yang sedang menggerogoti fondasi bangsa.
Sebab di balik panggung hiburan rakyat yang serba sederhana itu, di balik dinding-dinding kaca gedung pemerintahan yang dingin, perlombaan yang jauh lebih besar dan fatal sedang berlangsung.
Sebuah perlombaan yang tidak lagi menggunakan tali, mikrofon, atau karung goni, melainkan menggunakan kekuasaan, hukum, dan masa depan negeri.
Ketika rakyat sibuk menarik tambang, para oknum pejabat justru sibuk jual beli tambang—mengeruk kekayaan alam, mengeksploitasi bumi pertiwi demi mempertebal kantong pribadi dan kelompoknya.
Ketika rakyat dihibur dengan tarik suara, di panggung politik yang kotor sedang terjadi transaksi jual beli suara—memperdagangkan kedaulatan rakyat demi sebuah kursi jabatan, memanipulasi demokrasi demi melanggengkan kekuasaan.
Dan ketika rakyat terjatuh-bangun dalam balap karung, mereka—para pemangku kebijakan yang korup—justru sedang asyik saling sikut dalam balapan korupsi—berlomba memperebutkan anggaran negara, mencuri hak-hak publik tanpa ada rasa malu atau takut lagi.
Kemerdekaan ini milik siapa?
Jika rakyat hanya mendapat porsi sebagai penonton yang dihibur dengan permainan melelahkan, sementara elite politik berpesta pora mempermainkan nasib bangsa?
Jangan biarkan kemerdekaan kita hanya menjadi slogan seremonial yang kosong, sementara esensinya telah tergadaikan.
Saatnya membuka mata. Kritik bukan berarti benci, melainkan tanda bahwa kita masih peduli pada arah masa depan Indonesia.
Penulis : Rizwan Riswanto
Redaksi
