• Ming. Jul 12th, 2026

AMKP Dan Paguyuban Blok Puhun Turun Tangan Bersihkan Jembatan Kalimanis, Desak Pemerintah Lakukan Pemeliharaan Rutin

Cirebon.swaradesaku.com. Kepedulian terhadap fasilitas umum kembali ditunjukkan Aliansi Masyarakat Karangsembung Peduli (AMKP) dan Paguyuban Blok Puhun Desa Karangsuwung melalui aksi gotong royong membersihkan kawasan Jembatan Kalimanis, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon, Minggu (12/7/2026).

Puluhan warga bersama anggota AMKP secara sukarela membersihkan rumput liar, semak belukar, trotoar pejalan kaki, serta saluran drainase di sepanjang jembatan yang menghubungkan Desa Karangsuwung dengan Desa Karangsembung.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi infrastruktur yang dinilai telah lama minim pemeliharaan.
Selama ini, trotoar di sisi jembatan dipenuhi rumput liar, tanah, dan endapan lumpur sehingga tidak lagi dapat difungsikan secara maksimal sebagai jalur pejalan kaki. Kondisi tersebut memaksa warga berjalan di badan jalan yang padat kendaraan dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Selain itu, saluran drainase di sepanjang jembatan juga banyak yang tertutup tanah, sampah, serta vegetasi liar sehingga aliran air tidak berjalan optimal. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mempercepat kerusakan konstruksi jembatan.

Ketua AMKP, Ade Falah, mengatakan kegiatan gotong royong ini lahir dari keprihatinan masyarakat terhadap kondisi Jembatan Kalimanis yang selama bertahun-tahun dinilai kurang mendapatkan perhatian.

“Jembatan Kalimanis merupakan akses vital yang menghubungkan Desa Karangsuwung dengan Desa Karangsembung. Namun selama bertahun-tahun kami hampir tidak pernah melihat adanya pemeliharaan rutin, baik dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah terkait. Karena itu masyarakat memilih turun langsung membersihkan jembatan demi kenyamanan dan keselamatan bersama,” ujarnya.

Menurut Ade Falah, trotoar yang semestinya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki kini hampir tidak dapat digunakan akibat tertutup rumput liar dan endapan lumpur.
“Akibatnya masyarakat, termasuk anak-anak dan lansia, terpaksa berjalan di badan jalan yang dipadati kendaraan. Kondisi ini tentu sangat membahayakan dan tidak boleh dibiarkan terus-menerus,” katanya.

Ia juga menyoroti banyaknya lubang drainase yang sudah tertutup tanah dan rumput sehingga fungsi pembuangan air tidak lagi berjalan dengan baik.
“Apabila saluran air terus tersumbat, air akan menggenang dan dalam jangka panjang bisa mempercepat kerusakan konstruksi jembatan. Pemeliharaan rutin jauh lebih efektif dan lebih hemat dibandingkan harus melakukan perbaikan besar ketika kerusakan sudah parah,” tegasnya.

Ade Falah berharap Pemerintah Kabupaten Cirebon lebih serius memberikan perhatian terhadap pemeliharaan infrastruktur yang sudah ada, bukan hanya berfokus pada pembangunan baru.

“Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya berharap ada program pemeliharaan rutin terhadap jembatan, trotoar, dan drainase. Infrastruktur yang dibangun menggunakan uang rakyat harus dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, warga membawa berbagai peralatan sederhana seperti cangkul, sabit, parang, cangkrang, sapu, dan alat pemotong rumput manual. Berkat semangat kebersamaan dan gotong royong, rumput liar berhasil dibersihkan, trotoar kembali terlihat, serta saluran drainase mulai terbuka sehingga aliran air kembali lancar.

Aksi sosial ini menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan masih sangat tinggi. Namun di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa pemeliharaan infrastruktur publik merupakan tanggung jawab pemerintah yang harus dilakukan secara berkala demi menjaga keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan fungsi fasilitas umum.

( Septian )