Lamandau.swaradesaku.com. Maraknya pemberitaan di media massa atas dugaan perselingkuhan yang diduga dilakukan oleh oknum Pejabat yang bertugas dilingkungan Pemkab Lamandau dengan sesama ASN yang notabene bertugas dilingkungan yang sama hanya beda instansi dinas.

Informasi yang dihimpun awak media bahwa awal mulanya terkuak dugaan perselingkuhan ini lantaran chat istri si oknum pejabat beredar ke publik sehingga viral.
Lantaran viral dan maraknya pemberitaan di media massa dugaan perselingkuhan, Inspektorat Daerah Lamandau mengambil langkah dalam penanganan perkara ini.
Pemberitaan dibeberapa media massa memberitakan bahwa 2 oknum ASN tersebut sudah di periksa dan tidak ditemukan pelanggaran kode etik.
Diberitakan bahwa Pemkab Lamandau sudah mengambil langkah pembinaan untuk 2 oknum ASN tersebut dengan tindakan mutasi.
Munculnya polemik di tengah – tengah masyarakat hingga menjadi pertanyaan besar, kalau tidak ada ditemukan pelanggaran kode etik setelah pemeriksaan kenapa harus ada langkah pembinaan dengan tindakan mutasi?
Warga masyarakat Lamandau, Abdul Kodir Jaelani (43) saat diwawancarai awak media (24/5) menanggapi dugaan perselingkuhan yang viral dengan sanksi di mutasi lantaran tidak ditemukan pelanggaran kode etik, Abdul Kodir Jaelani menanggapi bahwa seharusnya tidak perlu adanya mutasi bila tidak ditemukan pelanggaran kode etik.
Seyogyanya dalam penanganan dan penyampaian informasinya haruslah tegas yang bersesuaian adanya masalah dan langkah tindakannya,” papar Abdul Kodir
ASN yang bertugas di Kabupaten Lamandau haruslah memberikan contoh teladan yang baik ke publik khususnya bagi masyarakat Lamandau, harap Abdul Kodir.
Diakhir penyampaiannya, Abdul Kodir menyampaikan ke awak media bahwa terkait perselingkuhan dan asusila di lingkungan ASN adalah pelanggaran berat yang bisa saja terjadi pemecatan atau pemberhentian secara tidak hormat terhadap oknum ASN bukan cuma di mutasi, perlu keseriusan dalam penanganannya agar menjadi efek jera dan keseriusan penanganan mencerminkan tatanan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, demikian pungkasnya.
(Supianur88)
