• Sel. Mei 5th, 2026

Cirebon.swaradesaku.com. Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) terus menggenjot program job matching sebagai langkah konkret menekan angka pengangguran.

Strategi ini dinilai efektif dalam menjembatani lulusan sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

Penegasan program tersebut disampaikan saat kegiatan pembagian Surat Keterangan Lulus (SKL) di SMK Muhammadiyah Lemahabang, Senin (4/5/2026).

Momentum kelulusan dianggap sebagai waktu strategis untuk memperkuat koneksi antara dunia pendidikan dan sektor industri.

Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, SSTP, MSi, menegaskan bahwa peran Bursa Kerja Khusus (BKK) di setiap SMK sangat krusial dalam membuka akses kerja bagi lulusan.

Menurutnya, BKK menjadi penghubung utama antara lulusan dengan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA). Terlebih, jaringan kerja sama SMK kini semakin luas, tidak hanya di wilayah Cirebon Timur, tetapi juga merambah ke luar daerah.

“BKK membuka peluang besar bagi lulusan SMK untuk langsung terserap di dunia kerja. Ini juga membantu pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran,” ujarnya.

Data menunjukkan, setiap tahun jumlah lulusan SMK di Kabupaten Cirebon mencapai sekitar 11–12 ribu orang. Sementara itu, peluang kerja dinilai relatif seimbang, meski masih membutuhkan sinkronisasi yang lebih kuat antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.

Karena itu, kolaborasi antara sekolah dan pelaku industri menjadi kunci utama dalam mempercepat penyerapan tenaga kerja.

Program job matching dinilai mampu mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan kompetensi lulusan secara lebih efektif dan tepat sasaran.

Dari sisi ketenagakerjaan, tren di Kabupaten Cirebon menunjukkan perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat turun dari sekitar 6,7 persen menjadi 6,4 persen.

Meski demikian, jumlah pengangguran masih tergolong tinggi, yakni di kisaran 80 ribu orang. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah dalam mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja.

“Secara tren sudah membaik. Bahkan dibandingkan daerah lain, Cirebon dan Majalengka termasuk yang konsisten mengalami penurunan angka pengangguran. Hal ini juga dipengaruhi oleh iklim investasi yang terus tumbuh,” jelas Novi.

Namun demikian, meningkatnya jumlah lulusan setiap tahun tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara kolaboratif.

Ke depan, program job matching diharapkan terus diperluas dan diperkuat agar menjadi solusi konkret dalam menekan pengangguran sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja di Kabupaten Cirebon.

( Falah )