• Kam. Sep 3rd, 2026

Cirebon.swaradesaku.com. Tradisi Muludan kembali menjadi magnet bagi masyarakat dan peziarah di Kabupaten Cirebon. Berbagai rangkaian adat, budaya, keagamaan hingga kesenian digelar di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.

Paguyuban dan Sanggar Pangmulueran Mancur Jaya menggelar rangkaian tradisi dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah selama dua hari, Selasa hingga Rabu, 1–2 September 2026.

Salah satu prosesi yang paling dinantikan masyarakat adalah pengangkatan Buyut Kayu Mati atau Buyut Kayu Perbatang dari dasar Balong Kramat. Ritual tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi Muludan yang hingga kini masih dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Pagelaran Brai Danalaya pada Selasa malam, 1 September 2026. Pertunjukan yang berlangsung mulai pukul 19.00 hingga 24.00 WIB tersebut memadukan unsur seni, budaya, tradisi serta nuansa spiritual yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal Cirebon.

Kemudian, pada Rabu pagi, 2 September 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, masyarakat menyaksikan prosesi utama berupa pengangkatan Buyut Kayu Mati atau Buyut Kayu Perbatang dari dasar Balong Kramat.

Setelah diangkat, kayu tersebut menjalani prosesi pencucian atau pemandian menggunakan air dari balong. Kain pembungkusnya kemudian diganti dengan kain baru sebelum dilanjutkan dengan rangkaian ritual berikutnya.

Juru Pelihara Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Raden Suparja, mengatakan tradisi Muludan di situs tersebut memiliki waktu pelaksanaan tersendiri.

Menurutnya, puncak tradisi dilaksanakan setiap tanggal 19 Mulud atau Sangalase, sekitar tujuh hari setelah pelaksanaan Panjang Jimat di sejumlah keraton di Cirebon.

“Di sini Panjang Jimat atau Pelal dilaksanakan setiap tanggal 19 Mulud atau Sangalase. Kayu tersebut diangkat pagi hari dari dalam balong, kemudian dimandikan atau dicuci dengan air dari balong, lalu kain pembungkusnya diganti dengan yang baru. Pada malam hari, kayu tersebut ditenggelamkan kembali ke dalam balong,” kata Raden Suparja.

Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk pelestarian warisan leluhur yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat sekitar.

Pawai Pusaka Disambut Ribuan Masyarakat

Sebelum Buyut Kayu Perbatang kembali ditenggelamkan ke dalam balong pada malam hari, masyarakat mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan, mulai dari arak-arakan atau pawai budaya, pertunjukan seni hingga pembacaan Barzanji.

Pada malam harinya, mulai pukul 19.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan Panjang Jimat Ider-Ideran Malam Pelal Muludan.

Kegiatan tersebut memadukan unsur tradisi, seni dan keagamaan. Masyarakat dapat menyaksikan Ider-Ideran Panjang Jimat dan arak-arakan pusaka, doa dan tahlil bersama, serta berbagai pertunjukan budaya.

Rangkaian Pelal atau Panjang Jimat di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya turut dihadiri Sultan Kacirebonan P.R. Abdulgani Natadiningrat, S.E., unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kedawung serta Kuwu Desa Kertawinangun.

Dalam pawai tersebut, Sultan Kacirebonan didampingi Raden Suparja menaiki kereta kencana. Pawai arak-arakan itu mendapat sambutan antusias dari ribuan masyarakat yang memadati dan berkumpul di sepanjang jalur yang dilalui.

Kemeriahan Muludan tidak berhenti pada prosesi adat dan keagamaan. Rangkaian acara juga dimeriahkan dengan Festival Ogoh-Ogoh, bazar UMKM, serta berbagai pertunjukan seni dan budaya.

Bazar UMKM memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk mereka kepada masyarakat dan para pengunjung yang datang ke lokasi.

Sejumlah komunitas dan sanggar seni turut menampilkan berbagai kesenian, mulai dari tari tradisional Nusantara hingga tari kreasi beregu.

Perpaduan antara tradisi, seni, keagamaan dan aktivitas ekonomi masyarakat membuat perayaan Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya semakin semarak dan menarik perhatian masyarakat dari berbagai wilayah.

Pelaksanaan Muludan tahun ini juga tidak hanya diisi dengan prosesi adat dan keagamaan. Sejumlah perlombaan turut digelar untuk melibatkan masyarakat, salah satunya Lomba Tari Topeng Cirebon.

Raden Suparja mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan kesenian khas Cirebon kepada generasi muda.

Selain itu, rangkaian acara Muludan juga menghadirkan kesenian Brai Danalaya sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni dan tradisi lokal.

Menurutnya, berbagai kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat, mencintai dan ikut melestarikan kesenian serta tradisi Cirebon.

Rangkaian Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya menjadi momentum yang mempertemukan tradisi leluhur, nilai keagamaan, kesenian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mempertahankan warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun, tetapi juga memperkenalkan kekayaan tradisi Cirebon kepada generasi muda dan masyarakat luas.

Prosesi pengangkatan Buyut Kayu Perbatang dari dasar balong, pawai pusaka, pembacaan Barzanji, Panjang Jimat, pentas seni, Festival Ogoh-Ogoh, Lomba Tari Topeng Cirebon hingga bazar UMKM menjadi rangkaian yang membuat Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya memiliki daya tarik tersendiri.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana masyarakat Cirebon terus merawat identitas budaya dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

( Falah )