• Rab. Jul 22nd, 2026

Jakarta.swaradesaku.com. Tidak banyak pejabat yang mundur dari kursinya sambil menangis di depan publik. Nanik Sudaryati Deyang melakukannya dan jutaan orang yang mengikuti program Makan Bergizi Gratis mendadak bertanya-tanya: siapa yang akan meneruskan kerja keras perempuan itu?

Rabu pagi, 22 Juli 2026, Nanik mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional lewat sebuah unggahan di akun Facebook pribadinya. Tulisannya panjang, jujur, dan penuh rasa. “Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak Presiden untuk melakukan pengobatan di luar negeri untuk jantung saya,” tulis perempuan kelahiran Madiun, 3 Januari 1968, itu. Ia menegaskan keputusan tersebut bukan karena meragukan kemampuan dokter-dokter di Indonesia, melainkan semata untuk mencari pendapat medis kedua — second opinion — atas kondisi jantungnya yang memerlukan penanganan serius.

Nanik baru saja dilantik sebagai Kepala BGN di Istana Negara, Jakarta, pada Senin 8 Juni 2026 — hanya 44 hari sebelum pengumuman pengunduran dirinya ini. Ia menerima amanah itu dalam situasi yang tidak mudah. Nanik menggantikan Dadan Hindayana yang menjadi tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis. Di pundaknya diletakkan tugas bersih-bersih sebuah lembaga yang tengah disorot.

Sebelum duduk di kursi Kepala, Nanik bukan orang baru di BGN. Ia sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Rekam jejaknya di posisi itu justru yang membuat Presiden Prabowo Subianto mempercayainya naik satu tingkat. Ia dikenal tegas menutup Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang nakal dan tanpa ragu menindaklanjuti laporan dugaan mark-up bahan pangan di dapur-dapur mitra BGN.

Pengunduran diri Nanik sudah disampaikan langsung kepada Presiden dan mendapat persetujuan. Konfirmasi ini disampaikan Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, lewat akun Instagram resminya. “Hari ini, 22 Juli 2026, Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung. Beliau juga mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional,” kata Dirgayuza.

Meski mundur dari jabatan Kepala, Nanik tidak benar-benar pergi. Presiden disebut akan membentuk Dewan Pengawas BGN, dan Nanik diminta menjadi ketua dewan pengawas tersebut. Soal peran baru itu, Nanik sendiri berkelakar dalam unggahannya: ia mengaku trauma dengan urusan pegang uang, dan merasa posisi pengawasan justru lebih cocok untuknya.

Di luar urusan jabatan, Nanik menggunakan unggahannya untuk membela program yang selama ini ia kawal. Ia menegaskan program Makan Bergizi Gratis bukan alat politik. Ia menunjukkan logika sederhana: mayoritas penerima manfaat program ini adalah anak balita hingga siswa SD, yang pada 2029 pun belum cukup umur untuk memilih. “Kalau ada yang bilang 82 juta penerima manfaat itu untuk Pemilu 2029, mohon diluruskan pemikiran itu,” tulisnya.

Nanik juga menyebut dampak ekonomi yang ia saksikan sendiri saat program MBG libur tiga minggu: petani dan peternak mengeluh karena hasil bumi tidak terserap, harga anjlok, pedagang pasar membuang sayur dan buah yang tak terjual. Baginya, itulah bukti nyata bahwa program ini menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil, jauh dari kesan proyek elite yang kerap dituduhkan.

Dirgayuza, yang mengenal Nanik sejak menjelang Pemilu 2014, mengenangnya sebagai sosok yang tidak pernah bisa diam melihat rakyat menghadapi ketidakadilan dan kesulitan. Lebih dari satu dekade persahabatan itu menjadi saksi bahwa perempuan lulusan S2 Ilmu Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini memang tidak pernah berubah haluan.

Kini ia berangkat berobat. Siapa penggantinya sebagai Kepala BGN belum diumumkan. Yang pasti, program makan siang untuk 82 juta anak Indonesia itu harus terus berjalan — dengan atau tanpa Nanik di kursi kepala.

Dikutip dari : grup WhatsApp PKOWKB

Redaksi