• Sel. Mei 12th, 2026

Cirebon.swaradesaku.com. Pelaku usaha di wilayah Cirebon Timur mulai angkat bicara terkait lambannya perbaikan akses jalan pascaproyek pembangunan gorong-gorong. Kondisi jalan yang berlumpur saat hujan dan berdebu ketika cuaca panas dinilai telah melumpuhkan aktivitas ekonomi lokal, menurunkan omzet usaha, hingga merusak citra investasi daerah.

Titik persoalan yang paling banyak dikeluhkan berada di jalur akses menuju Hotel Dedy Jaya. Para pengusaha mengaku kesulitan menjalankan aktivitas usaha karena kondisi jalan yang menyempit dan sulit dilalui kendaraan besar maupun tamu hotel. Situasi tersebut berlangsung cukup lama tanpa adanya solusi cepat dari pihak terkait.
Dampak yang ditimbulkan pun meluas, Selasa, ( 12/05/2026 ).

Sejumlah hotel, rumah makan, toko material, hingga pelaku UMKM di sekitar lokasi mengaku mengalami penurunan jumlah pelanggan secara signifikan. Selain itu, mobilitas warga terganggu, distribusi barang tersendat, dan aktivitas perdagangan menjadi tidak maksimal.
Manager Hotel Dedy Jaya, Sidik, mengaku mendukung proyek pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten. Namun dirinya menyayangkan pelaksanaan proyek yang dinilai kurang memperhatikan dampak terhadap masyarakat dan pelaku usaha di sekitar lokasi.

“Proyek pemerintah tentu kami mendukung. Tetapi kontraktor jangan sampai merugikan pihak lain. Saya selaku Manager Hotel Dedy Jaya merasa kecewa karena kondisi ini seperti dibiarkan begitu saja,” ujarnya.

Sidik juga mengaku telah mendatangi pihak pengawas proyek untuk meminta langkah konkret agar kondisi jalan segera ditangani dan tidak semakin merugikan pelaku usaha maupun masyarakat pengguna jalan.

Menurut Sidik, pemerintah dan pelaksana proyek dinilai kurang serius dalam menangani dampak sosial dan ekonomi yang muncul akibat pengerjaan infrastruktur tersebut.
“Infrastruktur memang penting, tetapi jangan sampai pembangunan justru mematikan denyut usaha masyarakat. Ini bukan hanya soal proyek, tetapi juga menyangkut citra investasi daerah,” tegasnya.

Ia menambahkan, akses jalan merupakan faktor vital bagi keberlangsungan dunia usaha. Ketika akses terganggu tanpa penanganan yang cepat dan terukur, maka kerugian ekonomi akan terus membesar.
“Harus ada mitigasi yang jelas, seperti jalur alternatif, percepatan pengerjaan, atau komunikasi aktif kepada masyarakat dan pelaku usaha. Jangan sampai pengusaha dibiarkan menanggung kerugian sendirian.
Mereka membayar pajak dan menciptakan lapangan kerja, sehingga pemerintah harus hadir dan berpihak,” tambah Sidik.

Keluhan juga datang dari tamu hotel dan pengguna jalan yang terpaksa memutar arah lebih jauh untuk menghindari lumpur, genangan, dan kemacetan di lokasi proyek. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap kualitas penataan infrastruktur di wilayah Cirebon Timur.

Para pelaku usaha berharap pemerintah segera menjadikan perbaikan akses jalan sebagai prioritas agar roda perekonomian kembali normal. Mereka khawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka citra Cirebon Timur sebagai kawasan perdagangan dan jasa akan semakin menurun di mata investor maupun masyarakat luar daerah.

( Falah )