Cirebon.swaradesaku.com. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi bagi para siswa, justru menuai sorotan tajam dari para orang tua murid. Menu makanan yang dibagikan pada Senin (20/04/2026) di MIN 9 Cirebon dinilai sangat memprihatinkan dan jauh dari harapan masyarakat.
Menu MBG tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gebang Udik Cirebon di bawah naungan Yayasan Baitul Izzah Qurani.
Dalam paket makanan yang diterima siswa, terlihat hanya berisi nasi putih, empat tusuk sempol sederhana, sambal kacang, beberapa irisan timun, serta satu buah jeruk. Kondisi ini sontak memicu kekecewaan para wali murid yang menilai kualitas maupun kuantitas makanan tersebut sangat tidak sebanding dengan anggaran yang disebut mencapai Rp10.000 per porsi.
Salah satu orang tua siswa, Septian, mengaku prihatin melihat makanan yang diterima anaknya di sekolah. Ia menilai menu tersebut jauh dari standar makanan bergizi yang seharusnya menjadi tujuan utama program MBG.
“Kalau melihat isi makanannya seperti ini, jujur kami sebagai orang tua sangat kecewa. Ini jauh dari kata makan bergizi. Hanya nasi, sempol tusuk, sambal kacang, timun, dan jeruk. Kalau memang anggarannya Rp10.000 per porsi, kami mempertanyakan penggunaannya ke mana,” ujar Septian.
Menurutnya, program MBG semestinya menghadirkan makanan yang benar-benar layak, bernutrisi, dan mampu mendukung tumbuh kembang anak, bukan sekadar formalitas pembagian makanan yang terkesan asal jadi.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat bukan menolak program pemerintah, melainkan berharap pelaksanaannya benar-benar transparan dan sesuai dengan tujuan awal.
“Kami mendukung program pemerintah, apalagi untuk anak-anak sekolah. Tapi jangan sampai hanya bagus di nama, sementara realitanya sangat mengecewakan. Anak-anak butuh protein, lauk yang layak, bukan sekadar makanan seadanya,” tegasnya.
Keluhan serupa juga mulai ramai diperbincangkan oleh sejumlah wali murid lainnya. Mereka menilai menu tersebut tidak mencerminkan standar gizi seimbang yang selama ini digaungkan dalam program MBG. Bahkan, sebagian menyebut menu tersebut lebih mirip makanan darurat daripada paket makan bergizi untuk pelajar.
Program MBG yang digadang-gadang sebagai langkah besar pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekolah kini justru dipertanyakan implementasinya di lapangan. Minimnya lauk bergizi seperti telur, ayam, ikan, maupun susu menjadi sorotan utama.
Masyarakat berharap pihak terkait, dalam hal ini dapur MBG, segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut, khususnya dalam pengawasan kualitas menu dan transparansi anggaran. Jangan sampai program yang seharusnya menyehatkan generasi penerus bangsa malah menjadi polemik akibat lemahnya pengawasan.
Program sebesar MBG seharusnya bukan hanya soal pembagian makanan, tetapi juga tentang tanggung jawab moral terhadap masa depan anak-anak bangsa.
( Ade Falah )
