Proyek Pelebaran Trotoar Kampung Melayu Mengancam Keselamatan Pengendara

    Jakarta.swaradesaku.com.Proyek pelebaran trotoar di sepanjang jalan otista sampai ke terminal kampung melayu menelan korban pemgendara.

    Sepanjang jalan Otista terjadi penyempitan dan tampak berdiri seng-seng berwarna oranye menutupi bagian galian proyek yang di kerjakan rekanan pemprov DKI.

    Pada tanggal 27 September sekitar Pukul 20. 52 Wib, mobil berwarna silver tampak terperosok ke galian got yang dikerjakan menuju salah satu gang di kampung melau.

    Dari laporan yang diterima warawan pada saat itu, pada saat itu pekerja proyek dan mandor terlihat sedang melangsukan pekerjaan, akibat kejadian itubpengendara sempat ribut dan adu mulut dengan pengawas proyek.

    “kalian yang kerja dapat duit, masyarakat yang menderita” kata korban.

    Adapun kejadian tersebut terjadi disebabkan karena pihak perusahaan atau pelaksana kerja proyek tidak menyediakan akses layak untuk dilalui.

    Pelaksanaan proyek pelebaran trotoar tersebut termasuk pelanggaran hukum, karena pelaksanaan pekerjaan proyek tersebut mmemberikan dampak kerugian kerugian yang sangat besar kepada masyarakat bahkan sampai memakan korban.

    Plang-palang proyek berupa spanduk banyak terpampng disepanjang jalan, di spanduk tersebut tampak logo Pemda, Perusahaan dan Kejaksaan sebagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan proyek tersebut.

    Tidak mengerti apa maksud logo-logo tersebut, karena secara nyata-nyata pekerjaan pelebaran trotoar tetsebut tampak jauh dari sterilisasi keselamatan.

    Tidak tanggung-tanggung, TP4D dari kejaksaan masuk dalam pemgawasan tersebut, namun dalam praktek dilapangan pemawasan tersebut jauh dari standar pelaksanaan proyek yang sesungguhnya.

    Hal itu terlihat dari pekerjanya yang tidak dilengkapi dengan sefety atau standar keselamatan kerja.

    Dari informasi yang diterima dari warga sekitar, sudah banyak yang memprotes pelaksanaan proyek tersebut, hal itu dikarenakan banyak menggangu aktivitas masyarakat sekitar.

    Namun keberatan yang dilayangkan masyarakat tidak pernah di indahkan oleh perusahaan kontraktornya.

    “Pekerja lapangam dan pemgawas proyek” terkesan tidak peduli dengan keluhan warga sekitar, bahkan salah satu pemilik ruko di Kp. Melayu marah karena galian berupa aspal di tumpuk didepan akses menuju masuk ruko pemiliknya.
    ( Hasan Basri )

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *