Cirebon.swaradesaku.com. Di tengah kerasnya kehidupan dan keterbasan ekonomi, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, menjadi penopang utama bagi Karniah, seorang ibu muda yang hidup terlantar bersama bayinya di sebuah gazebo selama tujuh bulan terakhir.

Karniah bersama putrinya, Siti Karisah, yang masih berusia sekitar tujuh bulan, terpaksa tinggal di gazebo sederhana yang berada tepat di seberang dapur MBG. Tanpa rumah dan perlindungan yang layak, tempat itu menjadi satu-satunya tempat berteduh dari panas dan hujan.
“Sejak hamil saya sudah tinggal di sini. Tidak punya tempat lain,” ujar Karniah, Selasa (28/4/2026).
Ia mengaku diusir oleh orang tuanya tanpa alasan yang jelas, hingga akhirnya harus menjalani kehidupan di ruang terbuka. Kondisi itu semakin berat karena sang suami tidak tinggal bersamanya dan hanya memberi nafkah sekitar Rp10 ribu per hari.
Di tengah keterbatasan tersebut, dapur MBG yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Beringin menjadi satu-satunya harapan untuk bertahan hidup.
Setiap hari, Karniah mendapatkan makanan dari pengelola dapur yang lokasinya persis berada di depan gazebo tempat ia tinggal.
“Alhamdulillah, setiap hari bisa makan dari sini. Sangat membantu,” katanya.
Namun, bantuan itu baru sebatas kebutuhan konsumsi. Saat dapur MBG tidak beroperasi, Karniah harus bergantung pada belas kasihan warga sekitar untuk sekadar mendapatkan makanan.
Kepala Dapur SPPG Desa Beringin, Wahyu Cahyanuddin, membenarkan bahwa pihaknya rutin membantu Karniah dengan memberikan makanan setiap hari.
“Ibu Karniah memang tinggal di depan dapur. Kami setiap hari memberikan makanan semampu kami,” ujarnya.
Meski demikian, Wahyu mengakui bantuan tersebut belum mampu menjawab kebutuhan utama Karniah, yakni tempat tinggal yang layak dan perlindungan yang lebih memadai bagi ibu dan bayinya.
Di sisi lain, perhatian dari pemerintah desa dinilai belum maksimal. Karniah mengaku pernah menerima bantuan, namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang berarti.
Bahkan saat mengajukan permohonan tempat tinggal, ia hanya diminta untuk bersabar hingga sekitar dua tahun ke depan.
“Katanya disuruh sabar, bantuan belum bisa sekarang. Paling dua tahun lagi,” ungkapnya.
Selama tujuh bulan hidup di gazebo, Karniah harus menghadapi kerasnya cuaca, terutama saat malam hari dan musim hujan. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat bayinya masih membutuhkan lingkungan yang aman, sehat, dan layak untuk tumbuh kembang.
Kisah Karniah menjadi potret nyata bahwa meski Program MBG mampu meringankan kebutuhan pangan masyarakat rentan, masih ada persoalan mendasar lain yang belum tersentuh, terutama soal tempat tinggal layak bagi warga yang hidup dalam kondisi darurat.
Kini, Karniah hanya berharap ada perhatian lebih serius dari pemerintah daerah agar dirinya dan sang anak bisa keluar dari kondisi tersebut.
“Saya hanya ingin tempat tinggal yang layak untuk anak saya,” harapnya.
( Ade Falah )
