Cirebon.swaradesaku.com. Pagelaran tradisi adat seni budaya di Balong Kramat Tuk, Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian sejarah lokal sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan berbasis budaya.
Kegiatan ini tidak hanya menampilkan kekayaan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk kembali memahami akar sejarah yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial, Rabu ( 25/3/25 ).

Kuncen Balong Tuk, Raden M. Suparja, menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sumber pembelajaran berharga bagi generasi muda.
“Memahami sejarah adalah bagian dari proses pembentukan karakter. Dari sana, generasi muda dapat mengambil nilai-nilai terbaik untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Selain pagelaran seni budaya, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Road Show Dialog Budaya yang menghadirkan berbagai tokoh dan pemangku kepentingan. Forum ini diharapkan mampu menjadi ruang terbuka untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta merumuskan langkah strategis dalam mendorong kemajuan daerah berbasis kearifan lokal.
Ketua Komisaris II Dewan Provinsi Jawa Barat, Bambang Mujiarto, menekankan bahwa dialog budaya memiliki peran penting dalam menciptakan perencanaan pembangunan yang terarah dan berkelanjutan.
“Pembangunan daerah harus memiliki arah yang jelas dan didukung dengan perencanaan matang serta anggaran yang terstruktur. Dialog budaya menjadi salah satu fondasi penting untuk mewujudkan hal tersebut,” ungkapnya.
Dengan adanya kegiatan ini, harapan besar disampaikan oleh Mamaraden Suparja agar pagelaran tradisi adat di Balong Kramat Tuk tidak hanya menjadi agenda seremonial semata, tetapi mampu menjadi langkah awal dalam memperkuat identitas budaya lokal. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga, merawat, dan melestarikan warisan sejarah serta budaya sebagai aset berharga daerah.
Pagelaran budaya seperti yang digelar di Balong Kramat Tuk sejatinya memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar pertunjukan seni. Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, keberadaan tradisi lokal seringkali terpinggirkan dan kehilangan ruang dalam kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda.
Padahal, budaya lokal merupakan identitas yang tidak ternilai harganya. Ia menjadi penanda jati diri sekaligus pembeda yang memperkaya keberagaman bangsa. Ketika budaya mulai dilupakan, maka secara perlahan masyarakat juga akan kehilangan arah dan akar sejarahnya.
Kegiatan dialog budaya yang menyertai pagelaran ini menjadi langkah strategis yang patut diapresiasi. Tidak hanya menghadirkan nostalgia masa lalu, tetapi juga membuka ruang berpikir kritis tentang bagaimana budaya dapat diintegrasikan dalam pembangunan modern. Ini penting, karena pembangunan yang mengabaikan nilai-nilai lokal seringkali tidak berkelanjutan dan kehilangan relevansi dengan kebutuhan masyarakat.
Lebih jauh, sinergi antara tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan pelestarian budaya. Tanpa kolaborasi yang kuat, upaya menjaga warisan leluhur hanya akan menjadi wacana tanpa implementasi nyata.
Ke depan, kegiatan semacam ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu melibatkan lebih banyak elemen masyarakat, termasuk generasi muda. Dengan demikian, budaya tidak hanya dikenang, tetapi benar-benar dihidupkan dan diwariskan sebagai kekuatan dalam membangun masa depan daerah.
( Ade Falah )
