• Sab. Feb 14th, 2026

Lebak.swaradesaku.com. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak menggelar Rapat Koordinasi Rencana Kegiatan Tahun 2026 di Aula Disbudpar Lebak, Jumat 13 Februari 2026.

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menyatukan arah kebijakan sekaligus memperkuat sinergi lintas stakeholder dalam pengembangan sektor 1pariwisata, ¹ekonomi kreatif (ekraf), dan kebudayaan.

Kepala Disbudpar Lebak, M. Yosep Holis, menegaskan bahwa integrasi program antar komunitas, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan menjadi kunci dalam memastikan setiap kegiatan berjalan efektif serta memberikan dampak nyata terhadap perekonomian daerah.

“Sinergitas antar pelaku dan komunitas budaya, pariwisata, serta ekonomi kreatif sebenarnya sudah terjalin. Namun ke depan harus kita perkuat lagi agar kita bersama-sama mengejar visi yang sama dan menjadikan Lebak lebih unggul,” ujarnya saat membuka rapat.

Menurut Yosep, tahun 2026 akan menjadi momentum akselerasi pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis kolaborasi. Ia menekankan pentingnya penyelarasan program lintas fungsi, penguatan peran sesuai kapasitas masing-masing pihak, serta perencanaan berbasis target yang terukur.

“Program tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Semua harus terintegrasi dan saling mendukung, sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” katanya.

Dalam forum tersebut, Disbudpar memaparkan sejumlah agenda prioritas 2026. Salah satunya adalah optimalisasi momentum Liburan Lebaran melalui aktivasi destinasi wisata dan penguatan bazar UMKM lokal guna meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat.

Selain itu, event nasional Seba Baduy kembali diproyeksikan sebagai agenda budaya unggulan yang mampu menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Tradisi adat masyarakat Baduy ini dinilai memiliki daya tarik kuat sebagai ikon budaya Kabupaten Lebak.

Disbudpar juga akan mendorong penguatan Agrowisata Cikapek sebagai destinasi berbasis pertanian dan produk olahan lokal, reaktivasi Gedung Juang 45 sebagai pusat aktivitas budaya dan ekonomi kreatif, serta pengembangan Geopark Nasional Bayah Dome sebagai destinasi unggulan berbasis geowisata.

Tak hanya itu, pembentukan dan pengembangan desa wisata menjadi bagian dari strategi pemerataan ekonomi, termasuk penguatan kelembagaan di kawasan unggulan seperti Seba Baduy, Sawarna, dan Citorek.

Yosep menegaskan bahwa keberhasilan seluruh program tersebut sangat bergantung pada keterlibatan aktif seluruh stakeholder, mulai dari Pokdarwis, Komite Ekraf, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Balawista, BPPD, Saija Adinda, Saka Pariwisata, hingga pelaku dan komunitas budaya lainnya.

“Kalau kita bergerak bersama dengan visi yang sama dan pembagian peran yang jelas, maka sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Lebak akan semakin kuat, kompetitif, dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah,” tegasnya.

Rapat koordinasi ini diharapkan menjadi langkah awal konsolidasi menyeluruh dalam menyongsong agenda besar 2026, sekaligus mempertegas komitmen Pemerintah Kabupaten Lebak dalam membangun sektor pariwisata dan kebudayaan yang berkelanjutan serta berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

(Aweng)