Cirebon.swaradesaku.com. Di tengah hiruk-pikuk program bantuan dan jargon pemberdayaan UMKM yang kerap digaungkan pemerintah, masih ada potret sunyi perjuangan rakyat kecil yang luput dari perhatian. Salah satunya datang dari Desa Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon.

Adalah Ade Miharja, yang akrab disapa Mang Melon, seorang tukang pangkas rambut sederhana yang menggantungkan hidup dari gunting dan sisir. Profesi yang kerap dianggap remeh ini justru menjadi tulang punggung keluarga. Mang Melon merupakan ayah dari dua orang anak yang setiap harinya berjuang memastikan dapur tetap mengepul dari hasil potong rambut warga desa.
Tak hanya menanggung kebutuhan istri dan anak-anaknya, Mang Melon juga memikul tanggung jawab merawat kedua orang tuanya yang telah sepuh. Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia tetap bertahan tanpa keluh kesah, membuka jasa pangkas rambut dari pagi hingga sore bahkan sampai larut malam, berharap selalu ada pelanggan yang datang.
Namun di balik kegigihannya, keterbatasan modal usaha menjadi kendala serius.
Peralatan pangkas yang digunakan masih sangat sederhana, bahkan sebagian sudah tidak layak pakai. Untuk memperbarui alat atau memperluas usaha, Mang Melon nyaris tak memiliki akses, apalagi menyentuh bantuan permodalan dari pemerintah, ( Minggu, 25/1/26 ).
Kisah Mang Melon sejatinya bukan cerita tunggal. Ia adalah wajah nyata ribuan pelaku usaha mikro di desa-desa yang luput dari data, tak tersentuh program, dan kerap terpinggirkan oleh birokrasi bantuan yang rumit dan tak ramah rakyat kecil.
Ironisnya, pemerintah sering mengklaim keberpihakan pada UMKM, namun pelaku usaha seperti tukang pangkas rambut desa masih harus berjuang sendirian. Padahal, usaha mikro semacam inilah yang paling jujur menopang ekonomi rakyat dari bawah, tanpa subsidi, tanpa panggung, tanpa sorotan.
Jika negara benar-benar hadir, maka perhatian tidak boleh berhenti pada pelaku usaha besar atau UMKM yang sudah “siap proposal”. Pemerintah seharusnya aktif mendata dan memfasilitasi warga seperti Mang Melon—bukan menunggu mereka datang mengetuk pintu dengan harapan kosong.
Bantuan modal usaha bukan soal belas kasihan, melainkan bentuk keadilan ekonomi. Memberi akses permodalan kecil kepada tukang pangkas rambut desa berarti menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anaknya, kesehatan orang tuanya, dan martabat seorang kepala keluarga yang bekerja halal.
Mang Melon tidak meminta kemewahan. Ia hanya berharap negara menoleh, memberi ruang, dan hadir secara nyata di tengah kehidupan rakyat kecil yang selama ini setia bekerja tanpa pamrih.
( Ade Falah )
