Jakarta.swaradesaku.com. Konten kreator Eky Suryata, yang populer dengan nama panggung “Raja Terahir”, kini tengah berada di bawah tekanan besar. Sang kreator investigasi sosial yang biasanya vokal dan garang kini dituding publik sengaja “tiarap” dan bersikap penakut karena terkesan memilah-milah panggung dalam merespons sejumlah skandal besar yang sedang viral.

Kegeraman netizen ini turut memantik reaksi keras dari Alan Somantri, seorang pengamat dan pemerhati media sosial nasional. Alan secara terbuka melayangkan kritik menohok dan mendesak para pembuat konten digital, khususnya Eky Suryata, agar menjaga integritas dan tidak tebang pilih dalam menyuarakan keadilan.
“Sangat disayangkan jika konten kreator sekelas ‘Raja Terahir’ yang memiliki jutaan pengikut mendadak jadi penakut saat dihadapkan pada kasus hukum yang melibatkan jaringan kekuasaan atau aparat. Jangan hanya berani menyenggol kasus-kasus kecil demi kejar engagement, tapi mendadak bisu saat publik butuh pengawalan isu besar,” ujar Alan Somantri saat diwawancarai media.
Menurut Alan, sikap selektif ini merupakan bentuk kemunduran moral bagi kreator yang sejak awal membangun persona sebagai ‘pembela kebenaran’. Ia menegaskan bahwa publik saat ini sudah cerdas dalam menilai mana kreator yang tulus berjuang untuk keadilan dan mana yang hanya sekadar mencari aman.
“Kreator itu punya tanggung jawab sosial. Kalau terus-terusan tebang pilih, publik akan jenuh dan menganggap akun tersebut tidak lebih dari sekadar media hiburan komersial yang kehilangan taji. Jangan sampai dituduh sengaja bungkam demi mengamankan posisi atau relasi dengan pihak tertentu,” tekan Alan.
Setidaknya, ada empat kasus besar dan sensitif di wilayah Jambi yang disorot publik karena sama sekali tidak disentuh oleh Eky Suryata:
1.Sanksi Ringan 3 Oknum Polisi dalam Kasus Rudapaksa Remaja: Vonis dan sanksi internal yang dinilai publik terlalu ringan bagi tiga oknum anggota kepolisian pelaku pemerkosaan terhadap remaja di bawah umur.
2.Pengeroyokan Wartawan di SPBU Sengeti: Aksi kekerasan brutal terhadap jurnalis yang sedang bertugas, yang viral karena diduga melibatkan “bekingan” oknum Aparat Penegak Hukum (APH).
3.Skandal Jual Beli Jabatan Kepala Sekolah di Merangin: Dugaan praktik transaksional dan pungutan liar dalam birokrasi penunjukan kepala sekolah yang mencoreng dunia pendidikan.
4.Kriminalisasi Guru Honorer Tri Wulansari: Kasus jeratan hukum terhadap seorang guru honorer yang dinilai publik penuh dengan kejanggalan dan ketidakadilan.
Gelombang kritik di kolom komentar media sosial “Raja Terahir” terus bergulir, di mana netizen berulang kali menandai (tag) akun Eky untuk mendesaknya bersuara. Namun, hingga berita ini diturunkan, Eky Suryata maupun pihak manajemennya masih memilih bungkam tanpa memberikan klarifikasi atau respons apa pun ke hadapan publik.
(Redaksi)
