Denpasar.swaradesaku.com. Ketua Dewan Pengurus Daerah Media Independen Online (PD MIO) Denpasar, Bali, mendatangi saksi kunci untuk melakukan klarifikasi terkait keributan yang terjadi di Taman Pancing pada *Rabu, 16 Juli 2026*.
Klarifikasi resmi dilakukan sehari setelah kejadian, tepatnya pada *Kamis, 17 Juli 2026*. Saksi kunci yang ditemui adalah Bang Fawi, pemilik barbershop yang berada tepat di samping tempat spa di Taman Pancing, lokasi kejadian.
“Bertemu langsung dengan Bang Fawi pemilik barbershop di samping spa Taman Pancing. Dari keterangan beliau, fakta di lapangan berbeda dengan yang beredar di media sosial,” ujar Ketua PD MIO Denpasar dalam video klarifikasi.
Berdasarkan keterangan Bang Fawi, kronologinya berawal saat pelaku cukur di barbershop miliknya namun tidak membayar. Pelaku kemudian masuk ke tempat spa di sebelah hingga terjadi keributan dan korban berteriak minta tolong.
“Yang paling penting kami luruskan: pelaku BUKAN orang Sumba, BUKAN warga NTT,” tegasnya.
Sebagai warga Sumba, Ketua PD MIO Denpasar menilai pemberitaan yang tidak sesuai fakta merupakan bentuk pembohongan publik dan berpotensi menimbulkan fitnah terhadap warga Sumba yang merantau di Bali.
“Kami orang Sumba sayang Bali. Kami hidup dan cari makan di sini. Jangan karena ulah satu orang, nama seluruh warga Sumba yang sudah menjaga ketertiban di Bali ikut tercoreng,” ujarnya.
*Edukasi untuk Pengguna Media Sosial*
Dalam kesempatan itu ia juga memberikan edukasi kepada seluruh pengguna media sosial agar tidak memutarbalikkan fakta demi kepentingan pribadi atau menaikkan engagement akun.
“Jangan jadikan tragedi atau keributan sebagai konten. Cek dulu faktanya, konfirmasi ke sumber yang benar. Menyebar hoaks bukan hanya melanggar hukum, tapi juga merusak persatuan dan merugikan orang banyak. Media sosial itu tanggung jawab, bukan ajang cari sensasi,” pesannya.
Ia mengimbau kepada para pemilik akun media sosial untuk segera menghapus unggahan yang memuat informasi keliru. Jika tidak diindahkan, pihaknya tidak segan menempuh jalur hukum.
“Ini demi menjaga kerukunan antar suku di Bali. Kepada media dan warganet, mari lebih bijak sebelum menyebar berita,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih menangani kasus tersebut sesuai prosedur hukum yang berlaku.
#TolakHoaks #CekFaktaDulu #JagaKerukunanBali #SumbaBaliSatu
