• Jum. Apr 3rd, 2026

Diduga Tak Transparan, Manajemen RS. UMC Astanajapura Temui Jurnalis Di Area Minimarket Belakang Gedung RS

Cirebon.swaradesaku.com. Langkah manajemen Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Meratapada Wetan Cirebon Timur menuai sorotan dari kalangan jurnalis. Alih-alih dilakukan secara terbuka dan representatif, klarifikasi terkait kondisi pasien justru digelar di area belakang gedung rumah sakit.

Aliansi Jurnalis Cirebon Timur mendatangi pihak manajemen RSU Muhammadiyah untuk mengonfirmasi kondisi pasien atas nama H. Wasra (67), warga Lemahabang Kulon. Berdasarkan keterangan pihak rumah sakit, pasien mengalami gangguan kesehatan berupa diare, dehidrasi, mual, muntah, serta nyeri pada ulu hati, Kamis ( 2/4/26 ).

Namun, proses klarifikasi tersebut dinilai janggal. Pasalnya, pertemuan antara pihak jurnalis dan manajemen rumah sakit tidak dilakukan di ruang resmi atau ruang humas, melainkan di area belakang gedung, tepatnya di sekitar minimarket UM Mart yang berada di belakang lingkungan rumah sakit.

Perwakilan jurnalis, Falah, mengungkapkan kekecewaannya atas sikap manajemen tersebut.
“Kami memang diterima oleh pihak rumah sakit, namun sangat disayangkan audiensi dilakukan di belakang gedung, bukan di ruang yang semestinya mencerminkan keterbukaan dan profesionalitas,” ujarnya.

Menurutnya, sebagai institusi layanan publik di bidang kesehatan, rumah sakit seharusnya menjunjung tinggi transparansi, terlebih dalam menghadapi pertanyaan publik yang berkaitan dengan keselamatan dan pelayanan pasien.

Kejadian ini memunculkan pertanyaan serius terkait komitmen keterbukaan informasi di lingkungan pelayanan kesehatan. Rumah sakit bukan sekadar institusi medis, tetapi juga bagian dari ruang publik yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial terhadap masyarakat.

Pemilihan lokasi audiensi di area belakang gedung yang jauh dari kesan formal dan terbuka dapat memicu spekulasi publik. Tidak sedikit yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk komunikasi yang kurang profesional, bahkan berpotensi menimbulkan kecurigaan adanya hal yang sengaja tidak ingin disampaikan secara transparan.

Dalam konteks hubungan antara media dan institusi, keterbukaan adalah fondasi utama. Media hadir bukan untuk mencari sensasi semata, melainkan sebagai jembatan informasi bagi masyarakat. Ketika akses informasi dibatasi secara simbolik, misalnya melalui pemilihan tempat yang tidak layak, maka kepercayaan publik pun bisa ikut tergerus.

Lebih jauh, kondisi ini juga menjadi langkah penting bagi manajemen rumah sakit untuk memperbaiki tata kelola komunikasi publik. Ke depan, setiap bentuk klarifikasi atau audiensi seharusnya dilakukan secara terbuka, di ruang yang layak, serta dengan pendekatan yang profesional agar tidak menimbulkan persepsi negatif.

Jika tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin citra institusi akan terdampak, bahkan memicu gelombang kritik yang lebih luas dari masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Humas RS UMC, Ahmad Thoha, menyampaikan bahwa seluruh prosedur pelayanan telah dijalankan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Namun, ia mengakui kemungkinan adanya miskomunikasi antara petugas medis dan keluarga pasien.
“Secara prosedur sudah berjalan sesuai SOP, namun mungkin terjadi miskomunikasi yang membuat keluarga pasien merasa kecewa. Kami akan menjadikan ini sebagai bahan evaluasi,” jelasnya.

( Red )