• Jum. Mar 13th, 2026

BBWS Cimancis Siapkan Strategi Hadapi Kemarau 2026, Kekeringan Mengintai Lahan Pertanian

Cirebon.swaradesaku.com. Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan akan datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini diprediksi membawa dampak serius terhadap sektor pertanian, terutama terkait ketersediaan air bagi lahan pertanian di sejumlah wilayah.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimancis, Dwi Agus Kuncoro, kepada Swaradesaku pada Kamis (12/03/2026) menjelaskan bahwa pemerintah telah mulai menyiapkan langkah-langkah antisipasi sejak dini untuk menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026.

Mengacu pada pengalaman musim kemarau tahun 2025, pihaknya kini memperkuat berbagai strategi mitigasi guna mengurangi dampak kekeringan yang dapat mengganggu produktivitas pertanian.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyiapkan sejumlah peralatan khusus penanganan kekeringan, seperti pompa air untuk kondisi darurat, drone penyiram air, sprinkler, hingga alat pengebor sumur dangkal yang mampu mencapai kedalaman hingga 60 meter.

Selain itu, BBWS Cimancis juga telah mengembangkan pompa air berbasis tenaga surya yang dirancang untuk membantu petani saat pasokan air irigasi menurun. Peralatan tersebut dapat dipinjam secara gratis oleh kelompok tani yang membutuhkan, meskipun jumlah unit yang tersedia saat ini masih terbatas.

“Petani bisa meminjam pompa secara gratis. Namun karena unitnya masih terbatas, penggunaannya dilakukan secara bergiliran. Misalnya dipakai satu minggu, kemudian dipindahkan ke wilayah lain yang membutuhkan,” ujar Agus.

Ia menjelaskan, hingga saat ini BBWS Cimancis baru memiliki tiga unit pompa kekeringan hasil pengembangan internal. Keterbatasan jumlah tersebut disebabkan oleh keterbatasan anggaran dalam pengadaan bahan dan peralatan.

Meski demikian, pada tahun 2026 pihaknya menargetkan penambahan jumlah pompa agar penanganan kekeringan bisa menjangkau lebih banyak daerah irigasi.
Secara ideal, setiap daerah irigasi minimal memiliki tiga unit pompa untuk menghadapi kondisi darurat. Dengan kewenangan pengelolaan di delapan daerah irigasi, kebutuhan pompa diperkirakan mencapai sekitar 24 unit agar penanganan kekeringan dapat dilakukan secara maksimal.

Selain pengadaan pompa, pengelolaan embung serta bendungan juga akan disinergikan untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau berlangsung.
Namun demikian, Agus mengakui masih ada sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan karena belum terlayani secara optimal oleh jaringan irigasi dari bendungan.

Beberapa daerah yang dinilai rawan kekeringan antara lain wilayah hilir Majalengka serta sebagian kawasan Cirebon Timur. Di wilayah tersebut, sumber air masih terbatas karena jarak dari bendungan cukup jauh dan kapasitas tampungan air relatif kecil.

Upaya lain yang dilakukan adalah pemanfaatan sumur dangkal dengan kedalaman sekitar 10 meter yang dilengkapi pompa tenaga surya untuk kebutuhan skala kecil. Metode ini dinilai cukup efektif membantu petani memenuhi kebutuhan air saat musim kemarau.
Pengalaman pada tahun sebelumnya menunjukkan bahwa langkah-langkah tersebut cukup berhasil. Di beberapa daerah seperti Brebes, petani bahkan mampu melakukan penanaman hingga tiga kali dalam setahun berkat dukungan pompa air serta pengelolaan irigasi yang lebih baik.

Pemerintah berharap dengan penambahan peralatan serta sinergi antara embung, pompa air, dan bendungan, kebutuhan air bagi sektor pertanian tetap dapat terpenuhi hingga akhir musim kemarau.
“Dengan dukungan infrastruktur dan peralatan yang ada, kami optimistis kebutuhan air pertanian masih bisa terpenuhi hingga akhir tahun, termasuk sampai Desember,” pungkasnya.

( Ade Falah )