Kuningan.swaradesaku.com. Potret kemiskinan ekstrem kembali mencoreng wajah pelayanan sosial di Kabupaten Kuningan. Sepasang suami istri bersama dua anaknya terpaksa menjalani hidup yang jauh dari kata layak dengan menjadikan WC Mushola Al Hikmah sebagai tempat tidur selama berbulan-bulan.

Pasangan tersebut adalah Yoga (48) dan Santi (38), warga Gang Randu RT 09 RW 05, Blok Lingkungan Aton, Kelurahan Cijoho, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Ironisnya, kondisi memprihatinkan ini berlangsung cukup lama tanpa adanya perhatian serius dari pemerintah daerah.
Yoga dan Santi mengaku sudah berbulan-bulan tinggal dan tidur di area WC Mushola Al Hikmah bersama kedua anaknya.
Mereka dapat bertahan di lokasi tersebut semata-mata berkat izin dan kebaikan hati keluarga Bapak Agus, selaku pemilik mushola.
“Selama ini kami belum pernah menerima bantuan apa pun dari pemerintah, baik BLT, PKH, BPNT, maupun bantuan sosial lainnya. Yang pernah kami terima hanya Program Kesra,” ujar Yoga dan Santi, didampingi ponakannya Ikit (55), ( Senin, 26/26 ).
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar terhadap sistem pendataan dan kepekaan sosial pemerintah daerah. Pasalnya, keluarga tersebut jelas masuk kategori kemiskinan ekstrem, namun justru luput dari berbagai program bantuan negara yang selama ini digulirkan.
Pemkab Kuningan Dinilai Lalai, Pendataan Dipertanyakan.
Tidak tersentuhnya bantuan sosial bagi keluarga Yoga memunculkan dugaan kuat adanya kegagalan pendataan warga miskin, baik di tingkat kelurahan maupun kabupaten. Padahal, program bantuan seperti BLT, PKH, BPNT dan bantuan sosial lainnya sejatinya diperuntukkan bagi warga yang mengalami kesulitan ekonomi, bahkan dalam kondisi yang masih lebih baik dibandingkan apa yang dialami keluarga ini.
Wartawan telah mendatangi Kantor Kelurahan Cijoho untuk mengonfirmasi persoalan tersebut. Namun, beberapa staf kelurahan menyampaikan bahwa Lurah Cijoho, Eman Sulaeman, S.Sos, sedang menjalankan aktivitas di luar kantor sehingga belum dapat dimintai keterangan.
Upaya konfirmasi juga dilakukan melalui pesan WhatsApp kepada sejumlah instansi terkait, di antaranya Dinas Sosial (Dinsos) dan BAZNAS Kabupaten Kuningan. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak tersebut.
Kasus seperti ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Di tengah berbagai program penanggulangan kemiskinan yang terus digaungkan, masih ada warga yang harus hidup berdampingan dengan kloset dan bau limbah, sementara bantuan sosial kerap diberitakan tidak tepat sasaran.
Negara seharusnya hadir bukan setelah viral atau ramai diberitakan, melainkan sejak awal ketika warganya mulai terpinggirkan. Jika keberadaan satu keluarga yang tidur di WC mushola saja tidak terdeteksi, maka patut dipertanyakan seberapa akurat data kemiskinan yang selama ini dijadikan dasar kebijakan.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata Pemkab Kuningan, bukan sekadar klarifikasi, melainkan tindakan cepat dan solusi konkret. Kemanusiaan tidak boleh kalah oleh birokrasi, dan kemiskinan ekstrem tidak boleh dibiarkan menjadi pemandangan yang dianggap biasa.
Sumber : Arif
Penulis : Ade Falah
