Sosialisasi Penetapan Kajian Sempadan Sungai Cisadane Ruas Kab Bogor Wilayah Kec Ciseeng Kec Gunungsindur Dan Kec Rumpin

    Bogor. swaradesaku.com. Sesuai dengan peraturan Menteri PU No.: 26/PRT/M/2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.: 12/PRT/M/2006 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja BBWS dan Permen PU No.: 13/PRT/M/2006 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai, Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai Ciliwung Cisadane pada Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, dengan kebijakan baru berubah menjadi Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, dengan binaannya Satuan Kerja Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane.

    Tugas dari Pengendalian Banjir dan Perbaikan Sungai Ciliwung Cisadane adalah melakukan perencanaan, pelaksanaan konstruksi, monitoring, operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana pengendali banjir yang ada diwilayah kerja.

    Untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di wilayah lintasan sungai Cisadane, maka pada hari Senin 22 Juli 2019 digelar rapat Sosialisasi Penetapan Kajian Sempadan Sungai Cisadane wilayah Kec. Ciseeng, Kec. Gunungsindur dan Kec. Rumpin yang dilaksanakan di Aula Kantor Kec. Ciseeng.

    Hadir saat itu Camat Ciseeng Plt. Erismawan S.Sos, Yuni (staf kecamatan merangkap pembawa acara), Anggia Satrini (Kabid Program dan Perencanaan BBWSCC), Tjindra Parma (pakar praktisi), Budi Santoso (pakar praktisi), dan Kukuh (pihak konsultan), Kades Jampang Maman Suherman, Sekdes Pabuaran Awang Darmawan, Staf Desa Pabuaran Sendi, Sekdes Putat Nutug Yogi Ramadhana, Bambang Purwanto, Staf Kec. Ciseeng (Sakur Y, Jaimin, Evi Amelia), Staf Ds. Gunungsindur Saroni, Staf Ds. Cibodas Rumpin (Yahdi, Nawawi, Jajang, Jumantara, Rohman), para perwakilan warga dari wilayah Kec. Ciseeng, Kec. Gunungsindur dan Kec. Rumpin.

    Awal rapat dibuka dengan sambutan dari Camat Ciseeng Plt. Erismawan S.Sos yang menjelaskan secara singkat kalau sungai sangat penting bagi masyarakat, yang sekarang sudah beralih fungsi. Masyarakat membuang sampah ke dalam sungai. Air yang semula bersih dan jernih berubah menjadi kotor serta berbau.

    Kata Erismawan kembali, harus jelas badan sempadan sungai yang tidak boleh dibangun. Sungai menjadi kian sempit yang akhirnya menimbulkan banjir. Syukur alhamdulillah, hari ini kantor Kec. Ciseeng dijadikan lokasi untuk menggelar sosialisasi dan arahan oleh para narasumber. Ia berharap nantinya para ketua Rt/Rw serta masyarakat penghuni pinggiran sungai Cisadane memahami apa yang dipaparkan oleh narasumber tersebut.

    Anggia Satrini memaparkan dengan singkat mengenai garis sempadan sungai Cisadane. Nantinya para praktisi menjelaskan mengenai GSS Sungai Cisadane mulai dari hulu sampai muara/Tangerang sepanjang 124 km. Kab. Bogor utamanya Kec. Ciseeng tidak merasakan dampak bila terjadi banjir. Yang menjadi masalah bila terjadi longsor, maka akan merusak makam, kebun serta pemukiman.

    Pakar Praktisi Tjindra Parma menjelaskan kepada seluruh undangan yang hadir bahwa pihak Pekerja Umum sengaja mengantar petugas-petugas untuk melakukan pengukuran, dan di beberapa titik akan melakukan pematokan. Tujuan dan sosialisasi tersebut adalah untuk menentukan garis sempadan sungai yang nanti pada waktunya hasil pengukuran akan ditarik garis maya di dalam peta. Yang akan ditetapkan oleh pihak PU dalam bentuk Surat Keputusan. Dan pemetaan garis sempadan sungai akan merupakan rekomendasi bagi lurah/kepala desa, camat sampai bupati. Dimana bagian dari sungai yang aman, kurang aman atau berbahaya untuk ditinggali.

    Acara sosialisasi ditutup dengan tanya jawab dari para undangan yang hadir kepada narasumber yang menjelaskan secara gamblang dan mudah dipahami. (Agustion)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *